MAKNA ALLAH MENGIJINKAN KESULITAN
Secara garis besarnya ada tujuh ( 7 ) alasan mengapa Allah mengizinkan kesulitan terjadi dalam kehidupan manusia menurut pandangan Kristen Punya.
Meskipun ada beragam perspektif dan alasan mengapa Allah mengijinkan kesulitan dan penderitaan terjadi dalam kehidupan manusia. Namun satu yang pasti bahwa segala bentuk kesulitan hidup, kesengsaraan, dan penderitaan dampak dari manusia jatuh ke dalam dosa.
Kesulitan adalah situasi dan pengalaman yang sering kali tanpa diundang datang dalam kehidupan manusia.
Banyak orang bertanya, mengapa Allah mengizinkan sengsara terjadi? Apakah Allah tidak peduli atau mungkin tidak berkuasa untuk mencegahnya?
Pertanyaan seperti ini sudah menjadi topik perenungan bagi banyak orang, baik yang sudah beriman maupun yang belum beriman kepada Allah.
Kesusahan atau kesulitan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Seiring berjalannya waktu banyak orang menghadapi tantangan besar, baik itu kesakitan jasmani, emosional, atau bahkan kerohanian.
Namun, meskipun Allah adalah Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih tapi mengapa Allah mengizinkan kesulitan terjadi?
Dalam banyak kasus, masa - masa sulit bukan hanya sebuah ujian, tetapi juga sarana instropeksi atau pembelajaran.
Melalui berbagai kesulitan dan penderitaan umat Kristen diajak untuk merenungkan arti sebuah kehidupan dan belajar memahami diri kita lebih dalam. Ketika kita menghadapi kesulitan, kita sering kali lebih dekat dengan Allah, berusaha memahami makna dari ujian yang diberikan-Nya. Dalam konteks ini, berbagai kesulitan bisa menjadi alat untuk membangun kedewasaan dan keteguhan hati.
Berikut ini 7 alasan mengapa Allah mengizinkan kesulitan terjadi dalam hidup manusia menurut pandangan Kristen Punya :
1. KESULITAN UNTUK MENDEWASAKAN KITA
Orang Kristen tidak boleh kekanak - kanakan di dalam TUHAN, semua orang Kristen tanpa kecuali kalau sudah masuk di usia dewasa seharusnya dibarengi dengan kematangan berpikir.
Dengan kematangan berpikir orang Kristen bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah, serta mengerti mana yang baik dan mana yang lebih baik.
TUHAN mau semua orang Kristen bertumbuh menjadi orang dewasa di dalam iman, dalam pengharapan dan dalam kasih kepada TUHAN dan sesama manusia.
Sebagai ilustrasi dalam kehidupan ini, manusia yang beranjak dewasa tidak mungkin makanan utamanya susu sebagaimana layaknya seorang bayi.
Bagi orang dewasa susu dijadikan sebagai pelengkap nutrisi yang sangat diperlukan oleh tubuh khususnya tulang dan gusi.
Bagi orang dewasa makanan keraslah yang menjadi makanan sehari - hari karena kemampuan mencerna orang dewasa sudah lebih baik dari bayi atau anak - anak.
Hai ini jugalah yang telah disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. dalam surat 1 Korintus 3:1-3 : Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.
Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya.
Dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya.Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?
Kesakitan jasmaniah kadangkala harus kita alami dan rasakan, saat tubuh kita mengalami pertumbuhan menuju kedewasaan. Walaupun terkadang sudah dilindungi dan dijaga dengan sebaik-baiknya.
Tidak ada seorang anakpun akan dapat bertumbuh tanpa adanya resiko rasa sakit sewaktu jatuh. Bagaimana seorang anak dapat belajar berjalan tanpa dia harus mengalami jatuh? Jika ada cara lain untuk membesarkan anak - anak tanpa rasa sakit yang harus diderita demi pertumbuhan itu sendiri, pasti para leluhur kita telah menemukannya.
Tapi kenyataannya tidak pernah leluhur kita menemukan jalan hidup tanpa rasa sakit untuk bertumbuh dan terus bertumbuh.
Namun setiap orang Kristen harus mengerti juga bahwa pertumbuhan berarti menjadi lebih besar dari semula.
Dan seringkali menjadi lebih besar harus dilalui dengan berbagai ketegangan dan pergumulan. Misalnya berpisah dengan anak-anak, karena demi pertumbuhan dan masa depan mereka.
Anak kita harus pindah ke kota lain untuk melanjutkan sekolah. Ilmu yang ia dapatkan, membuatnya tidak sepikir dan sejalan lagi dengan orang tuanya, baik secara pendidikan, kejiwaan dan secara rohani. Timbullah perselisihan, pertengkaran yang akan membuat hidup diwarnai dengan beragam kesulitan.
2. MENUNTUN KITA MENGENAL ALLAH DAN KASIHNYA.
Bila diperhatikan, seringkali setelah mengalami banyak kesulitan atau kesusahan, orang akan berbalik kepada Allah.
Kalau saja bilik - bilik penjara, ruang - ruang rumah sakit dapat berbicara dan bersaksi, maka ia akan berkata : “Betapa banyak orang telah bertobat dari dosanya karena mereka mengalami kesakitan dan penderitaan di dalam ruangan ini."
Jika Anda saat ini sedang mengalami kesulitan, masalah atau persoalan, dan berbagai penderitaan lainnya izinkanlah hal itu terjadi, karena kesulitan adalah penuntun langkah yang baik untuk bertemu dengan Sang Pencipta dan merasakan kasihNya.
Jadi dapat dikatakan, bahwa “Pesuruh Allah” itu bukan saja malaikat, tetapi juga penderitaan dan kesulitan. Sadarkah Anda akan hal ini?
Dalam kisah Elimelekh dan Naomi yang terdapat dalam kitab Rut, keluarga Elimelekh dan Naomi mengalami masa kelaparan di Betlehem.
Daya tarik negeri Moab begitu luar biasa bagi mereka, sehingga mereka meninggaikan Betlehem. Sebenarnya Betlehem merupakan gudangnya makanan karena Betlehem berarti rumah roti.
Tetapi Naomi, Elimelekh dan kedua anaknya meninggalkan Betlehem untuk pergi ke negeri Moab.
Di negeri Moab, kedua putranya menikah dengan wanita di sana. Tetapi tidak lama kemudian Elimelekh meninggal, dan disusul oleh kedua putranya.
Kini Naomi beserta kedua Menantunya menjadi janda.
Dalam suasana seperti itu Naomi baru ingat kembali Betlehem.
Ketika hidup sengsara, ia baru ingat Betlehem, atau Rumah Roti. Akhirnya Naomi kembali ke Betlehem disertai dengan Rut. Mereka kembali bukan karena dijemput seorang Imam, Pendeta atau Penginjil, melainkan Pesuruh Allah yang bernama kesulitan hidup.
Kesulitan telah menuntun manusia untuk kembali kepada Allah dan menikmati kasih Allah.
Dalam kitab Perjanjian Baru, kita dapat melihat sebuah kisah yang sangat terkenal perihal anak yang terhilang.
Dalam Injil Lukas 15:11-32, dikisahkan perihal seorang ayah yang mempunyai dua anak laki-laki.
Anak sulung sangat taat, rajin dan apapun dikerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Sebaliknya anak yang bungsu sangat malas. Ia selalu ingin hidup bersenang-senang. Meskipun ayahnya belum meninggal, ia sudah meminta warisan untuk bekal di perantauan. Bapanya menggambarkan kepadanya bagaimana keadaan di perantauan dan menasehatinya supaya jangan pergi. Namun ia tidak menerima nasehat bapanya sehingga pada akhirnya anak itu diizinkannya pergi.
Pada saat anak bungsu tiba di perantauan ia merasa bebas dan senang karena bertemu dengan siapapun yang ia mau. la hidup berfoya - foya sehingga singkat cerita hartanya mulai habis. Kemudian tibalah masa kelaparan, lalu si anak bungsu ini berpikir untuk mencari kerja, tetapi tidak mempunyai keahlian. Untungnya ada seorang majikan yang iba terhadapnya dan menyuruhnya menjaga babi peliharaannya di ladang. la begitu lapar dan ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tak seorangpun yang memberikan kepadanya. Ia merasa sangat sedih dan pilu.
Pada saat itulah ia ingat rumah bapanya. la menyadari keadaannya, katanya: “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa. Aku tak layak lagi disebutkan sebagai anak bapa, sekarang jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa."
Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, Ayahnya itu berlari mendapatkan dia, lalu merangkul dan mencium dia.
Penderitaan dan kesulitan hidup telah menjemputnya untuk berbalik kepada bapanya.
Pertanyaannya sekarang, kita akan pilih yang mana? Berbalik kepada Allah sebelum mengalami kesulitan hidup atau dijemput oleh kesulitan hidup karena hidup kita yang sekarang masih bermain - main dengan dosa? Haruskah Allah mengirim utusanNya yang bernama kesulitan, supaya kita kembali kepada Allah?
Oleh karenanya, janganlah keraskan hatimu sekarang, berkatalah kepada Allah : “Bapa, aku tidak perlu dijemput kesulitan dan penderitaan. Aku dapat pulang sendiri, karena jalannya aku tahu. Aku tahu jalan pergi, aku juga tahu jalan pulang.”
Naomi dan Rut perlu jemputan, anak yang terhilang perlu jemputan.
Tetapi bagi kita yang sedang membaca postingan 7 Alasan Allah Mengizinkan Kesulitan ini, biarlah mau mendengar suaraNya, mau berpaling, dan berbalik kepadaNya. “Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus : Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, Janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan - perbuatanKu, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata : Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalanKu, sehingga Aku bersumpah dalam murkaku : Mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu." (Ibrani 3:7-11).
Kesulitan hidup menuntun dan membawa manusia berjumpa dengan Allah. Jika kesulitan terjadi di dalam hidup kita, jangan bertanya mengapa, tapi berkatalah: “TUHAN, terima kasih untuk kesulitan hidup yang kini aku alami ini, karena dengan kesulitan hidup dan penderitaan ini aku dapat berbalik arah dan kembali bertemu dengan Engkau dan merasakan belaian kasih sayangMu, serta dapat membuat saya hidup lebih baik lagi".
Pada saat semua orang Kristen tidak bermain - main dengan dosa lagi di sinilah terjadi pertobatan yang sesungguhnya.
Pada saat terjadi pertobatan sesungguhnya, inilah saatnya bagi semua orang Kristen untuk mencari Allah dan bertemu denganNya.
Sebagaimana yang dikatakan firman TUHAN dalam surat Yesaya 55:6 dikatakan : Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepadaNya selama Ia dekat."
Janganlah pernah berpikir : ada saatya nanti, gak usah sekarang, saya sekarang masih pingin bebas, ke Gereja jalan terus, dosa juga jalan terus.
Coba resapi, dan renungkan surat Yesaya 55:6 secara mendalam, garis bawahi kata ' selama Ia berkenan '.
Ini artinya ada saatnya Allah tidak berkenan lagi untuk ditemui dan ada saatnya Allah jauh saat kita berseru memanggil nama Allah. Orang Kristen tidak dapat menuntut itu semua karena Allah jauh dan tidak berkenan adalah kehendak dan otoritas Allah.
Oleh karena itu inilah saatnya untuk bertemu dengan Allah, karena itulah kerinduan Allah dari masa ke masa.
Kalau orang Kristen sudah ditegur dan dijemput melalui kesulitan hidup dan sakit penyakit.
3. PERTANDA ALLAH MEMPERLAKUKAN KITA SEBAGAI ANAK - ANAKNYA
Dalam ayat pembuka di surat Ibrani pasal 12, dijelaskan bahwa Allah menghajar orang yang dikasihiNya dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak. Dalam ayat 5 sampai 8 dikatakan : “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan TUHAN, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya, karena TUHAN menghajar orang yang dikasihiNya, dan la menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran: Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (Ibrani 12:5-8).
Jelas bahwa penghajaran merupakan bukti, bahwa Allah telah mengakui dan mengasihi kita sebagai anak-anakNya. Seorang bapa duniawi menghajar anak-anaknya untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik bagi mereka. Demikian juga Allah menghajar kita, oleh karena Allah ingin kita menjadi orang yang berarti. Allah ingin mengembangkan karuniaNya yang telah Ia taruh di dalam diri kita. Ia telah menciptakan: kita, menjadikan kita sebagai anakNya, dan sebagai anak, kita perlu diajar dan didewasakan, agar kita boleh berguna bagi Dia.
Satu hal yang tidak boleh kita lupakan, bahwa kalau tidak ada penghajaran, maka kita akan kehilangan semangat dan gairah.
Bila tidak ada penghajaran berarti bahwa kita bukanlah anak-anak Allah. Kita adalah anak-anak yang tidak sah (haram) yang di dalam surat Ibrani pasal 12 disebutkan sebagai “anak-anak gampang,” atau dengan perkataan lain, kita berada di luar keluarga Allah. Sebagai orang Kristen bisa saja menyebut diri kita sebagai “orang-orang percaya TUHAN ” Kita menyanyikan nyanyian - nyanyian rohani yang berisikan ungkapan bahwa "kita adalah anak-anak Allah.” Akan tetapi kita bukanlah orang Kristen yang terhisap sebagai keluarga Allah, kalau kita tidak mengalami penghajaran.
Sebab itu kalau penghajaran itu sedang kita alami, maka seharusnya kita berbesar hati dan bukan berputus asa atau menjadi tawar hati, karena hal itu menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak Allah.
Dalam surat Amsal 3:11-12 dikatakan :“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatanNya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihiNya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.”
Penghajaran dan hukuman dari Allah, merupakan dua hal yang berbeda. Orang Kristen tidak dihukum untuk dosa - dosanya lagi, oleh karena hukuman atas dosa-dosanya telah ditanggung oleh Yesus Kristus di atas kayu salib. Ibrani 10:10 berkata: “Dan karena kehendaknya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama - lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.” Dikuduskan berarti dipisahkan demi keselamatan.
Di dalam 1 Yohanes 1:7, kita mendapat kepastian bahwa: “Jika kita hidup dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus Anaknya itu menyucikan kita dari segala dosa.” Kemudian ayat 9 dari pasal yang sama berkata: “Jika kita mengaku dosa kita, maka la adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”
Tujuan penghajaran termasuk hal membereskan dan membersihkan kita dari segala kejahatan.
Allah tidak akan menghukum seseorang untuk kedua kalinya jika orang tersebut telah percaya kepadaNya. Yesus telah memikul semua dosa kita atas diriNya di atas kayu salib.
Dan pada saat kita menerima Dia sebagai Juru Selamat, kita sudah dilepaskan dari hukuman - hukuman selanjutnya.
Yesus Kristus sendiri menegaskan hal ini ketika la berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yohanes 5:24).
Hal ini bukan berarti lalu kita mendapat izin untuk berbuat dosa. Kalau kita berpikir bahwa keadaan kita itu memberi kebebasan untuk kita melakukan dosa, maka kita hanya akan mendatangkan lebih banyak penghajaran ke atas diri kita sendiri.
Untuk itu jangan sampai salah memahami apa arti mendengar, mendengar bukan sekedar aktivitas mendengar yang diperankan oleh indera pendengaran kita.
Tapi lebih dari itu, dalam arti yang sesungguhnya mendengar adalah melakukan apa yang diperintahkan TUHAN. Berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN dan melakukannya dengan setia, itulah yang disebut mendengar.
Kalau Allah menghukum, la melakukan itu sebagai Hakim yang adil, tetapi kalau Ia menghajar, itu dilakukannya sebagai Bapa yang mengasihi.
Allah adalah Hakim kita sebelum kita menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, Kita tidak dapat memanggil Allah sebagai Bapa sampai pada saat kita sudah menjadi anak - anakNya. Yohanes 1:12 mengatakan pada kita: “Semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak - anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.”
Jadi jelas di sini bahwa Allah akan menghukum orang-orang yang berada di luar keluargaNya, tetapi Ia akan menghajar mereka yang ada di dalam keluargaNya.
4. UNTUK MEMBENTUK KARAKTERISTIK ORANG KRISTEN YANG SESUNGGUNYA
5. MENUNTUN KITA UNTUK HIDUP BAGI ALLAH
6. AGAR MENJADI WARGA KERAJAAN ALLAH
7. MENUNTUN KITA UNTUK MELAYANI ORANG LAIN
Bersambung...
0 Response to "7 Alasan Allah Mengizinkan Kesulitan Terjadi "
Post a Comment